Archive for April, 2007

balonku terbang

Saturday, April 21st, 2007

siang itu, ada anak kecil berjalan ke arahku. mukanya merah, napasnya tak teratur. isakannya masih terdengar. ia tampak habis menangis, dan tampak masih sedih.

 

kuberanikan diriku, ‘kenapa dik?’. dia tak menjawab dan memilih untuk duduk di bangku taman itu. kepalanya tertunduk, ia ragu untuk bercerita kepadaku. tangannya menahan semua badannya, kakinya mulai diayunkan seiring napasnya. aku hanya bisa menemaninya duduk disana, kuambil permen yang ada di kantongku. ‘dik, permen’. ia tersenyum kecil, ‘makasih kak =)’.

 

sepoi2 angin siang itu terasa nyaman. matahari yang masih bersinar, dan suara anak2 yang bermain di salah satu ujung taman. kuharap adik kecil ini juga merasakan betapa indahnya siang itu, dan tidak bersedih lagi. ia terlihat pintar, sopan n santun. ia sedih, sangat dalam mungkin. tapi terlihat ia bisa mengontrol perasaannya. bukan menangis, merengek2 seperti anak kecil lain yang biasa kutemui.

 

‘kakak lihat balon2 itu? aku punya satu kemarin kak’ dia menunjuk sekumpulan balon terbang di angkasa. ‘iya, bagus sekali ya, sekumpulan jadi warna warni’ ku mengiyakan. ‘apa warna balonmu?’ ku berusaha mendengarkan, siapa tahu rasa sedihnya berkurang. ‘bening kak, aku senang, aku bisa melihat segala warna dengannya’ ia menjawab. ‘pasti bagus, kamu dapat dari mana?’ ku tersenyum mendengar jawabannya. pintar anak ini.

 

‘ada yang memberikan balon itu kemarin. aku sangat senang. itu satu2nya balon bening yang orang itu punya. itu balon istimewa untukku kak’ dia mulai menatapku. aku bisa melihat mata kecilnya berbinar2 saat menceritakannya padaku.

 

‘kamu pasti telah menjaga balon itu dengan hati2 ya’.

‘iya kak, sejak balon itu diberikan, aku pegang erat2. ketika aku harus pergi ke kelas, aku bawa bersamaku. ingin lebih lama bermain dengannya, aku pulang lebih cepat dan tak ikut kegiatan hari itu di kelas. aku takut balon itu terbang karena angin yang begitu kencangnya kemarin, maka aku pulang menjalani jalan yang lebih panjang dari biasanya. aku lewati gang kecil di belakang sekolah yang tak pernah kulewati sebelumnya. ku tidak bisa melihat pemandangan di taman ini, seperti apa yang biasa kulakukan dengan teman2ku sepulang sekolah. aku senang, siang itu, ku sampai di rumah dan balon itu masih di tanganku, utuh’.

 

anak kecil ini sangat suka balon pikirku. ‘wah, kamu tampak tahu bagaimana menjaga sebuah balon’.

 

‘ini balon pertamaku kak. aku tak ingin ia terbang dengan cepatnya. setelah makan siang, aku keluar bermain berasama kakakku selama 1 jam. setelah kembali, balon itu masih disitu tapi tampak tak sebagus pertama ku mendapatnya kak. aku tak bisa melihat hal lain dengannya sejelas dulu. aku senang saat bisa melihat merah dibalik balon itu sejelas merah. tapi itu telah berubah. aku pikir, karena kutinggal bermain. lalu, aku tetap menjaganya, aku bawa bersamaku ke taman, berharap semua kembali seperti awal. tapi tidak kak.’

 

‘nanti kamu akan belajar lebih banyak, ada alasan di belakang suatu perubahan, walau tak selalu.’

 

‘iya kak, mungkin suatu saat nanti. sepanjang sore kubawa bermain. saat pulang ke rumah, kutinggal balon itu di kamar, karena ku harus mandi n makan malam bersama keluarga. karena aku takut balon itu berubah lagi seperti saat kutinggal bermain dengan kakakku, kali ini kubiarkan balon itu menyentuh langit2 kamarku. aku pikir, kubisa gapai lagi nanti saat ku kembali.’

 

‘tentu kamu bisa, kamu naik ke tempat tidur n gapai setelahnya?’

‘iya kak… saat ku kembali balon itu ada di tengah ruangan. walau tetap berada di kamarku, kutak bisa menggapainya. n aku capai kak sehari bermain bersama balon itu. setelah bersiap2 tidur, n balon itu tak berubah tempat. aku tak punya tenaga untuk mengambilnya. aku pikir, malam itu aku tidur saja, karena hari ini libur, aku pasti akan bisa bermain lagi lebih lama dengan balon itu. lalu aku tidur.’

 

‘ya terkadang kamu tak bisa mendapat semua apa yang kamu mau.’

 

‘iya, malam itu aku bermimpi panjang kak. dari senangnya hatiku, sampai mimpi buruk yang tak pernah aku bayangkan. aku terbangun pagi ini lemas kak. dalam mimpiku aku harus berlari terus tanpa terlihat ujung dimana aku bisa berhenti.’

‘berdoa sebelum tidur kadang bisa menenangkan mimpi kita =). mungkin kamu khawatir berlebihan ya dik.’

 

‘iya mungkin kak… pagi ini aku langsung terduduk. dan aku bangun menuju jendelaku. membukanya, kuingin melihat sinar matahari pagi ini. kuharap semua mimpi burukku hilang dengan sinarnya. aku buka jendela itu, lalu dari kamarku ku bisa lihat taman ini. burung2 berkicau, matahari bersinar, hembusan angin di dedaunan pohon2 itu. aktfitas pagi hari yang tak sempat kulihat kemarin, karena mungkin, ku terlalu sibuk dengan balon itu. ku diam sejenak kak, lalu angin berhembus kencangnya ke dalam kamarku. kencang kak. dan balon ku terbang bersama angin itu. jauh ke tengah taman ini, dan tinggi ke angkasa.’

‘itu sebab kamu sedih? kamu mau kakak belikan balon lagi?’

 

‘bukan itu kak. bukan karena hanya balon itu ada atau tidak ada. tapi waktu hanya 1 hari. orang yang memberikannya padaku berjanji memberikan balon  yang lain jika aku masih memilikinya. dan aku bisa memiliki 2 balon hari ini. tapi aku tak bisa kak. aku lihat teman2ku memiliki banyak balon di tangan mereka. ketika semua berbeda warna, sangat bagus.’

 

‘tapi kakak lihat kamu sudah berusaha untuk menjaga balon itu. bukan salah kamu kalau akhirnya balon itu lepas. kamu bilang, ada angin yang berhembus membiarkan balon itu terbang.’

 

‘tapi tampaknya aku harus bisa menghindari angin itu kak… ‘

 

‘mungkin kamu bisa. tapi tidak setiap saat kamu bisa mengendalikan semuanya. karena kamu bukan pengatur segala. rencana kamu pun bisa gagal karena kehendak yang lain.’

 

‘….’

 

‘ kakak mengerti karena sebelumnya kakak sama seperti kamu. yang paling kakak ingat, kakak punya 3 balon, tapi sama, angin menghembuskan 3 balon itu pada saat yang bersamaan. bukan berarti kamu tak bisa menjaga balon. ‘

 

‘orang dewasa seperti kakak, tentunya tak ingin bermain balon lagi kan? jadi hal ini tak masalah untuk kakak.’

 

‘iya, mungkin kita tak perlu balon. tapi anggap balon itu seperti hal yang indah untuk dilihat, tapi kamu punya pengorbanan untuk dijalankan, supaya tetap bisa melihat balon itu kan.. nah orang dewasa akan perlu menjalankan pengorbanan yang lebih besar untuk sesuatu yang tak terlihat nyata, berbeda dengan balon itu. setelah pengorbanan besar dalam 3 balon itu, kakak tahu bagaimana pengorbanan itu. dan kakak senang akhirnya menjalankan itu sekarang, setelah melepas balon2 yang sudah mengajarkan kakak.’

 

‘kok saya merasa seperti sia2 usaha saya 1 hari itu menjaga balon itu kak.’

 

‘tak ada yang sia2. di beberapa orang, kadang balon itu disimpan, walau ukurannya mengecil karena waktu. cerita yang berbeda untuk tiap manusia. teman kakak sudah terlatih, untuk 7 balon, dia jaga balon itu seminggu. walau saat itu dia harus membawa balon itu ke luar kota. dia berpikir balon itu tak akan lepas, hanya akan mengecil dan masuk terus dalam pengorbanan dia selnjutnya. tapi nyatanya tidak, balon itu terbang  pada akhir minggu itu.tapi kakak yakin, teman kakak itu tidak sia-sia. selama 7 hari tentu ia sudah belajar banyak.’

 

‘iya kak… aku bingung melihat orang dewasa.’

 

’semua orang belajar menjadi dewasa dengan menjad dewasa. saat kamu takut, kamu akan menunda itu semua, dan itu tak terjadi. tapi, satu hal, belajar pengorbanan itu banyak cara. tak hanya dengan menjaga balon. terkadang, membiarkan balon itu lepas, ikhlas, itu juga pengorbanan. jangan terlalu fokus dengan hal ini.. menjadi dewasa lebih dari balon2 itu. kamu ingat balon yang tadi kita lihat di angkasa… kita bisa melihat keindahannya saja, walau mungkin cuma sesaat dan singkat daripada memilikinya.’

   

‘mungkin kak, lebih tepatnya there was a time for me, and now it’s not the time. i will just wait till the next right time’

‘iya kira2 begitu.’

 

‘makasih ya kak’.

ia memelukku erat. raut mukanya lebih cerah. walau aku masih bisa lihat keraguan dan tanda tanya. tapi asal itu tidak dominan, itu normal. tak ada dari kita hidup tanpa tanda tanya. karena pertanyaang2 yang kita punya, hanya waktu yang bisa menjawab.

 

*lunch kita 2 April’07, how i can forget the numbers ;)*

hesitation

Monday, April 16th, 2007

for any reason why one would have hesitation it depends on them and varies from one to another.

i just thought of type of hesitation i would have over something. generally, if i don’t know well the person, it will be the case. even though the person says clearly ‘don’t hesitate for anything’, i would still hesitate.

 

however, i just realized the real reason of me being hesitated. there are two types of condition where my hesitation will be addressed to.

 

first, the hesitation for a request that i know it will be rejected. one says it’s just that you are not putting your effort hard enough. or other says ‘the worst answer you will get is no’. but sometimes it’s better to keep the answer not out by requesting nothing. like a friend of mine said, ‘it’s good to be opportunist, but not all the time as it can be irritating’. indeed, sometimes it’s better to ask nothing and allowing that space to be filled for more prompt opportunity next time or by someone else who doesn’t mind helping. all i want to say, why would we hope for one to offer hand while knowing it isn’t possible. not only about getting the wish granted or rejected, there are more beyond that. more things that are better not revealed for everyone’s good.

 

the 2nd type is hesitation over something that i know for sure will be granted in any case. it’s hard to believe, but it does exist, wishes that will definitely be granted in any case. it’s not a solution for the wishes rejected in the first example. i feel bad if i have to use these last resources. one lesson i learnt and tried to apply, despite the wishes are granted, it doesn’t mean to take it for granted. for what i always believe, it will run in the cycle or in tree branches networking i would prefer to say.

 

[ hesitation = a state of doubt or uncertainty]

you wouldn’t hesitate when you believe

when there’s no belief, one couldn’t expect hesitation nor anything